Klojen, 2 April 2026 – Suasana kebersamaan dan nuansa religius begitu terasa di Kantor Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Kecamatan Klojen pada Kamis sore (02/04/2026). Memasuki bulan Syawal sebagai bulan kemenangan setelah Ramadhan, sekaligus merayakan Idul Fitri 1447 H, MWC NU Klojen menggelar acara Shalawat Nariyah, Hizb Nashor, dan Halalbihalal yang dihadiri oleh seluruh jajaran pengurus badan otonom (Banom) di lingkungan MWC NU Klojen.
Acara yang dimulai pukul 17.00 WIB ini berlangsung khidmat hingga selesai. Rangkaian kegiatan diawali dengan pembacaan Surat Yasin yang dipimpin oleh Ustadz Mujtahid, dilanjutkan dengan tahlil dan istighosah yang dipimpin oleh Ustadz Damat. Setelah itu, Shalawat Nariyah yang dipimpin oleh Dr. KH. Isroqunnajah, M.Ag. yang akrab disapa Gus Is dan juga menjadi penceramah utama malam itu.

Acara dilanjutkan dengan sholat Isya berjamaah yang dilaksanakan di Kantor MWC NU Klojen. Seluruh jamaah, termasuk pengurus Banom Ansor, Fatayat, Muslimat, IPNU, IPPNU, dan lainnya, tampak kompak dan khusyuk melaksanakan ibadah.

Dan dilanjutkan penyampaian tausiyah oleh Dr. KH. Isroqunnajah, M.Ag. (Gus Is) yang menyentuh hati. Beliau mengawali dengan mengajak seluruh jamaah untuk bersyukur karena Allah SWT telah memberikan barokah di bulan Syawal dan mempertemukan kita dengan bulan kemenangan ini. “Banyak saudara-saudara kita yang telah mendahului dan tidak bisa lagi bertemu dengan bulan Syawal. Maka sudah sepantasnya kita bersyukur dan memanfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya,” ujar Gus Is.
Dalam ceramahnya yang khas, Gus Is membedah cerita Abu Nawas melalui syiir Ilahilastulil. Beliau menjelaskan bahwa dalam syair tersebut terkandung pesan mendalam tentang hakikat manusia di hadapan Allah. Lebih lanjut, Gus Is mengupas tentang keutamaan orang yang berpuasa di bulan Ramadhan.

“Siapa yang berpuasa Ramadhan dengan penuh keimanan dan keikhlasan, maka diampuni semua dosa-dosanya yang telah lalu. Ini adalah janji Rasulullah SAW yang harus kita yakini,” tegasnya.
Gus Is juga memberikan nasihat bijak tentang bagaimana menyikapi orang yang telah meninggal. “Ada kebaikan orang mati, maka kita ingat dan kita sebut. Jika ada jeleknya, maka kuburlah dalam-dalam. Jangan kita sebarkan aib saudara kita yang telah tiada,” pesannya.

Menginjak tema halalbihalal, Gus Is mengupas tradisi Syawal di Indonesia dengan gaya yang ringan namun sarat makna. “Kita saling memaafkan, naik turun itu mengisyaratkan bahwa ada dosa kepada Allah dan ada dosa kepada manusia. Semuanya kita saling hapuskan,” jelasnya.
Tidak lupa, beliau juga mengupas filosofi ketupat dan lepet. Dan juga menyampaikan analogi tentang kelapa yang bermanfaat mulai dari akar hingga daunnya, mengajak jamaah untuk menjadi pribadi yang bermanfaat dalam segala aspek kehidupan, sebagaimana kelapa yang seluruh bagiannya memiliki manfaat.

Dalam kesempatan itu, Gus Is juga menyoroti fenomena ramainya masjid di bulan Ramadhan. Beliau mengajak jamaah untuk menjaga semangat tersebut tidak hanya di bulan puasa, tetapi juga di bulan Syawal dan bulan-bulan lainnya. Terkait tradisi takjil, beliau mengingatkan bahwa “Takjil seharusnya dibagikan, bukan dijual. Mari kita hidupkan semangat berbagi, bukan mencari keuntungan di saat orang lain sedang berbuka puasa.”
Acara halalbihalal ini menjadi momentum yang sangat berharga bagi seluruh jajaran MWC NU Klojen dan Banom untuk saling bermaaf-maafan, mempererat ukhuwah Islamiyah, serta menyatukan visi dalam mengemban amanah keumatan ke depan.

Kegiatan ini pun ditutup dengan doa bersama, memohon kepada Allah SWT agar senantiasa diberikan keberkahan di bulan Syawal serta kemudahan untuk bertemu kembali dengan bulan Ramadhan tahun depan.

Artikel ini diproduksi oleh Tim Jurnalistik LTN NU MWCNU Kecamatan Klojen bekerja sama dengan Tim Media Ansor Klojen sebagai bentuk dokumentasi dan publikasi kegiatan.