
Bareng, 25 Februari 2026 – Rangkaian Safari Ramadhan yang digelar oleh Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Klojen kembali berlanjut. Kali ini, kegiatan bertempat di Masjid Fathul Huda, Jalan Bareng Raya 2A Kelurahan Bareng Kecamatan Klojen Kota Malang. Acara yang bertujuan mempererat silaturahmi antara pengurus jam’iyyah dan jamaah ini berlangsung dengan khidmat dan penuh antusiasme dari warga sekitar.

Kegiatan diawali dengan pelaksanaan shalat Isya dan Tarawih berjamaah. Puncak acara diisi dengan mauidzah hasanah yang disampaikan oleh KH. Nur Asmari, selaku Rois Syuriah MWC NU Klojen. Dalam ceramahnya, beliau memberikan edukasi mendalam mengenai fiqih puasa dan pentingnya menjaga etika spiritual selama bulan suci.
Antara Sahnya Puasa dan Sanksi yang Mengintai
KH. Nur Asmari mengawali tausiyahnya dengan mengingatkan jamaah untuk menjaga hal-hal mendasar yang membatalkan puasa, seperti makan, minum, dan berhubungan intim di siang hari. Beliau menekankan aspek kasih sayang Allah dalam ibadah ini.
“Jika seseorang benar-benar lupa lalu makan, minum, atau bahkan melakukan hubungan suami istri karena tidak sadar sedang berpuasa, maka puasanya tetap sah dan wajib dilanjutkan. Itu adalah rezeki dari Allah,” jelas beliau.
Namun, beliau memberikan peringatan keras bagi siapa saja yang membatalkan puasa dengan sengaja, terutama melalui hubungan intim di siang hari. Sanksi atau kafarat-nya sangat berat, yakni memerdekakan budak. Jika tidak mampu, maka wajib berpuasa selama dua bulan berturut-turut. “Jika masih tidak mampu juga, maka pilihannya adalah memberi makan 60 orang miskin dengan porsi yang layak,” tambah KH. Nur Asmari.

Waspada 5 Perkara Pembatal Pahala Puasa
Hal yang paling ditekankan oleh Rois Syuriah MWC NU Klojen ini adalah perbedaan antara “puasanya sah” dan “puasanya berpahala”. Beliau mengingatkan bahwa banyak orang berpuasa namun hanya mendapatkan lapar dan dahaga karena melakukan lima hal yang menghanguskan pahala:
Berbohong: Ucapan dusta secara otomatis meniadakan manfaat spiritual dari puasa.
Ghibah (Menggunjing): Membicarakan keburukan orang lain adalah dosa besar yang melumat habis pahala puasa.
Fitnah (Namimah): Menyebarkan informasi palsu untuk memecah belah. Beliau menyoroti penggunaan grup chat di media sosial yang sering kali menjadi ladang dosa jika tidak digunakan dengan bijak.
Memandang dengan Syahwat: Reaksi alami manusia yang harus dikendalikan. Beliau berpesan kepada orang tua agar mendidik putra-putrinya berpakaian sopan agar tidak memancing syahwat orang lain.
Sumpah Palsu: Menggunakan nama Allah untuk menipu atau lepas dari tanggung jawab, bahkan dalam konteks bercanda sekalipun.
“Jangan sampai puasa kita secara teknis sah karena tidak makan dan minum, tapi di hadapan Allah tidak bernilai apa-apa karena lidah dan mata kita tidak ikut berpuasa,” pesan KH. Nur Asmari menutup ceramahnya.

Rangkaian acara di Masjid Fathul Huda tersebut kemudian ditutup dengan shalat Witir berjamaah. Melalui kegiatan Safari Ramadhan ini, diharapkan warga Nahdliyin di wilayah Bareng Raya dapat menjalankan ibadah puasa dengan lebih berkualitas, baik secara syariat maupun hakikat.
Artikel ini diproduksi oleh Tim Jurnalistik LTN NU MWCNU Kecamatan Klojen bekerja sama dengan Tim Media Ansor Klojen sebagai bentuk dokumentasi dan publikasi kegiatan.
-Adin
Leave a Reply