Menyiapkan Generasi Mubaligh yang Unggul: Diklat Imam Rowatib dan Khotib Jum’at se-Kecamatan Klojen

Malang – Dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia di bidang keagamaan, khususnya dalam kepemimpinan salat dan khutbah, Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Kota Malang berkolaborasi dengan Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Klojen sukses menggelar Diklat Imam Rowatib dan Khotib Jum’at. Kegiatan yang berlangsung pada hari Ahad, 8 Maret 2026 ini bertempat di Kantor MWC NU Klojen, Jl. Cianjur 2B, Malang, dan diikuti dengan antusias oleh puluhan peserta.

Acara yang dimulai pukul 08.00 WIB ini dihadiri oleh para imam rowatib masjid dan mushola, khatib Jum’at, pengurus MWC NU dan ranting, serta kader-kader muda dari GP Ansor dan IPNU se-Kecamatan Klojen.

Sambutan Ketua LDNU: Penguatan Fikih Ibadah

Ketua LDNU Kota Malang, Ust. Fatmir Riza Madjid, S.Ag., M.Pd dalam pengantarnya menekankan urgensi pemahaman fikih ibadah bagi seorang imam dan khatib. Beliau menegaskan bahwa menjadi pemimpin ibadah bukan sekadar soal mampu membaca Al-Qur’an, tetapi juga menguasai seluk-beluk hukum agar ibadah yang dipimpinnya sah dan diterima di sisi Allah SWT.

Sambutan Ketua Tanfidz MWC NU Klojen: Estafet Kepemimpinan Umat

Ketua Tanfidz MWC NU Klojen, Ustaz Damat, S.Ag., S.Pd. dalam sambutannya menekankan pentingnya peran strategis seorang imam dan khatib di tengah masyarakat. Menurutnya, kegiatan bimbingan teknis (bimtek) ini memiliki urgensi yang sangat besar bagi keberlangsungan generasi umat.

“Bimtek ini sangat penting agar kita tidak putus generasi dalam hal membangun generasi muda untuk siap menjadi imam masjid, mushola, dan atau langgar. Kita sedang menyiapkan kader-kader terbaik yang kelak akan memimpin salat dan membimbing umat di lingkungan masing-masing,” ujar Ustaz Damat.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa diklat ini juga bertujuan untuk membina khatib-khatib muda agar siap menjadi pendakwah melalui mimbar salat Jumat. “Kita ingin melahirkan generasi baru yang siap menyampaikan risalah Islam dengan penuh tanggung jawab. Seorang imam bukan hanya sekadar memimpin salat, tetapi ia adalah teladan. Seorang khatib bukan hanya penyampai pesan, tetapi ia adalah pembangun peradaban. Melalui diklat ini, kita berharap lahir imam dan khotib yang tidak hanya paham fiqh, tetapi juga memiliki adab dan strategi dakwah yang relevan dengan kondisi kekinian,” tegasnya di hadapan para peserta.

Spirit Perjuangan dari Sesepuh NU

Momen istimewa dalam pembukaan diklat ini adalah sambutan sekaligus tausiyah dari sesepuh NU Kota Malang, Kyai Nur Asmari. Dengan kearifan lokal yang khas, beliau menyampaikan pesan mendalam tentang keberlanjutan estafet perjuangan ulama.

“Insya Allah, NU tidak akan pernah kekurangan kiai,” ucap Kyai Nur Asmari disambut antusias peserta.

Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa potensi kepemimpinan umat harus terus diasah dari sekarang. “Kita berharap, dari majelis-majelis seperti ini, lahir generasi penerus yang nantinya tidak hanya mampu menjadi imam salat, tetapi juga bisa mengasuh pondok pesantren ke depannya. Ini adalah ladang juang kita bersama,” imbuhnya.

Dalam tausiyahnya, Kyai Nur Asmari juga memberikan wejangan mendalam mengenai tata krama dalam beribadah. Beliau mengupas secara detail tentang klasifikasi hukum Islam seperti wajib, sunah, makruh, mubah, hingga halal dan harom. Penekanan khusus diberikan pada konsep khilafus sunnah (menyalahi sunnah) dan khilaful ula (menyalahi keutamaan).

“Ketika melaksanakan ibadah, terutama sebagai imam dan khotib, kita tidak boleh asal-asalan. Masyarakat akan menilai kita. Maka utamakanlah tata krama (adab), karena adab lebih tinggi dari ilmu. Pilihlah cara yang terbaik (khilaful ula dihindari) agar ibadah kita tidak sah secara fiqh saja, tetapi juga indah dan menentramkan di mata jamaah,” pesan beliau yang langsung mendapat perhatian serius dari para peserta.

Materi Komprehensif untuk Bekal Dakwah

Para peserta mendapatkan pembekalan materi yang komprehensif dari para ahli di bidangnya.

Fiqh dan Adab Imam-Khatib

Sesi inti tentang Fiqh dan Adab dipandu oleh Ust. Syamsul Arifin, S.Pd.I., M.Pd yang mengupas tuntas hukum-hukum seputar imamah dan khutbah. Mulai dari syarat wajib dan sah Jumat, rukun khutbah, sunah-sunahnya, hingga adab-adab yang harus dijaga oleh seorang imam dan khatib.

Materi yang disampaikan mencakup:

· Syarat wajib Jumat: Islam, baligh, berakal, merdeka, laki-laki, sehat, dan menetap
· Syarat sah Jumat: Berjamaah minimal 40 orang, dilaksanakan di pemukiman, waktu zuhur, setelah dua khutbah
· Rukun khutbah: Memuji Allah, shalawat, wasiat takwa, membaca ayat Al-Qur’an, dan doa untuk kaum muslimin
· Sunah khutbah: Khutbah di mimbar, mengucapkan salam, duduk saat azan, membaca surat-surat tertentu

Tahsinul Qur’an

Sesi Tahsinul Qur’an diisi oleh Ust. H. Fahrurozi Tamimi, MH yang memberikan praktik langsung perbaikan bacaan Al-Qur’an, khususnya Surat Al-Fatihah. Beliau memaparkan materi tentang makharijul huruf, sifatul huruf, serta fikih Al-Fatihah dalam mazhab Syafi’i.

Beberapa poin penting yang disampaikan:

· Al-Fatihah wajib dibaca imam dan munfarid, makmum tetap wajib membaca kecuali masbuq
· Basmalah adalah ayat pertama Al-Fatihah dan wajib dibaca
· Menjaga 14 tasydid dalam Al-Fatihah
· Perbedaan qiraat dalam lafaz Maliki Yaumiddin
· Tidak dianjurkan berwaqaf pada lafaz an’amta ‘alaihim

Strategi Dakwah dan Teknik Khutbah

Masih dari Ust. H. Fahrurozi Tamimi, MH, peserta juga mendapat materi tentang “Memilih Tema dan Teknik Khutbah yang Menarik”. Beliau menekankan bahwa tema adalah jiwa khutbah. Tema yang baik harus aktual, relevan, edukatif, dan membangun kesadaran.

Teknik penyampaian yang efektif meliputi:

· Riset singkat tentang tema
· Gunakan kisah inspiratif
· Buat kerangka khutbah yang sistematis
· Jaga durasi 10-15 menit
· Gunakan intonasi bervariasi dan kontak mata
· Hindari membaca teks sepenuhnya

Materi Penutup: Strategi Dakwah Kyai Nur Asmari

Sebagai penutup, materi Strategi Dakwah yang disampaikan oleh Kyai Nur Asmari menjadi klimaks yang memperkaya wawasan peserta tentang cara menyampaikan pesan dakwah yang efektif dan menyentuh hati.

Penutupan: Pesan Kyai Nur Asmari tentang Tiga Fikih Pengembangan Islam

Puncak acara ditandai dengan penyerahan sertifikat kepada seluruh peserta yang telah mengikuti diklat dari pagi hingga sore. Penyerahan dilakukan langsung oleh sesepuh NU Kota Malang, Kyai Nur Asmari, yang juga bertindak sebagai pemateri strategi dakwah.

Dalam sambutan penutupnya, Kyai Nur Asmari menyampaikan pesan-pesan berharga yang menjadi bekal para imam dan khatib saat kembali ke masyarakat.

Khutbah yang Efektif: Tegas dan Tidak Panjang

Mengawali pesannya, beliau menyinggung soal teknis khutbah yang sering menjadi keluhan jamaah.

“Dalam khutbah, umumnya jamaah tidak menghendaki khutbah yang panjang. Usahakan jangan lebih dari 20 menit. Kemudian, khutbah hendaknya tegas, seakan-akan di depan itu musuh. Maksudnya, kita harus menyampaikan kebenaran dengan berani, tidak ragu-ragu, karena ini tanggung jawab kita di hadapan Allah,” tegasnya.

Tiga Macam Pemahaman dalam Pengembangan Islam

Lebih jauh, Kyai Nur Asmari memaparkan konsep penting tentang tiga pendekatan dalam mengembangkan ajaran Islam yang harus dipahami oleh para kader NU:

1. Fikihul Ahkam: Pemahaman Hukum
“Pendekatan pertama adalah fikihul ahkam, yaitu pemahaman secara hukum yang diterapkan dalam lembaga pesantren, terutama pondok pesantren salaf. Seperti yang kita lihat di Pondok Pesantren Miftahul Huda Gading, di sana santri dididik untuk memahami hukum Islam secara mendalam. Ini adalah fondasi utama, karena tanpa pemahaman hukum yang benar, ibadah kita bisa salah.”

2. Fikihud Dakwah: Pemahaman Dakwah
“Kedua, fikihud dakwah, yaitu pemahaman tentang bagaimana menyebarkan Islam melalui dakwah. Inilah yang kita lakukan hari ini. Mengkader dai-dai muda, imam-imam, dan khatib yang siap terjun ke masyarakat. Namun, saya ingatkan, semua ini harus dengan niat lillahita’ala. Bukan karena ingin dipuji, bukan karena ingin terkenal. Niatkan semata-mata karena Allah.”

3. Fikihus Siyasah: Pendekatan Politik
“Ketiga, fikihus siyasah, yaitu pendekatan politik. Ini bisa melalui jalur legislatif atau politik praktis. Tujuannya tetap sama, mengajarkan nilai-nilai keislaman lewat jalur politik. Karena kebijakan publik juga menentukan masa depan umat. Maka jangan pernah remehkan politik, asalkan kita masuk dengan niat yang benar dan tetap berpegang pada nilai-nilai Islam.”

Harapan untuk Generasi Penerus

Di akhir sambutannya, Kyai Nur Asmari kembali mengingatkan bahwa diklat ini bukan sekadar seremonial, tetapi awal dari perjuangan panjang.

“Insya Allah, NU tidak akan kekurangan kiai. Dari majelis-majelis seperti inilah lahir generasi penerus yang kelak tidak hanya menjadi imam dan khatib, tetapi juga mengasuh pondok pesantren, membimbing umat, dan membawa kemaslahatan bagi bangsa. Teruslah belajar, teruslah berjuang, dan jaga selalu adab serta niat kita,” pesannya.

Kesan Peserta dan Harapan ke Depan

Dengan mengusung tema peningkatan kualitas dan adab, diklat yang digelar gratis ini memberikan fasilitas berupa sertifikat, materi pelatihan, dan yang terpenting, perluasan jaringan dakwah antar para pegiat masjid dan kader NU di wilayah Klojen.

“Kami sangat terbantu dengan adanya diklat ini. Ilmu yang didapat sangat aplikatif, terutama soal adab menjadi imam yang jarang kami dapatkan di pengajian biasa,” ujar salah satu peserta dari GP Ansor.

Kegiatan ditutup dengan doa bersama dan foto bersama, dengan harapan para peserta dapat mengimplementasikan ilmunya di masjid dan mushola masing-masing, sehingga tercipta kehidupan beragama yang lebih berkualitas di Kecamatan Klojen.

Artikel ini diproduksi oleh Tim Jurnalistik LTN NU MWCNU Kecamatan Klojen sebagai bentuk dokumentasi dan publikasi kegiatan.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*