Sesi Materi Diklat dengan Pesan Mendalam: Bekal Imam dan Khatib untuk Umat

Malang – Rangkaian acara Diklat Imam Rowatib dan Khotib Jum’at yang diselenggarakan oleh LDNU Kota Malang bersama MWC NU Klojen pada Ahad, 8 Maret 2026, berlangsung dengan penuh khidmat hingga penghujung acara. Bertempat di Kantor MWC NU Klojen, Jl. Cianjur 2B Malang, kegiatan yang diikuti puluhan peserta ini tidak hanya memberikan pembekalan teori, tetapi juga praktik dan wawasan mendalam tentang kepemimpinan ibadah dan dakwah.

Materi inti fikih disampaikan oleh Ust. Syamsul Arifin, S.Pd.I., M.Pd yang juga menjabat sebagai Sekretaris Lembaga Dakwah PCNU Kota Malang. Dengan lugas, beliau memaparkan berbagai aspek penting seputar salat Jumat, mulai dari:

Syarat Wajib dan Sah Jumat

Beliau menjelaskan secara rinci bahwa syarat wajib Jumat meliputi Islam, baligh, berakal, merdeka, laki-laki, sehat, dan menetap (bukan musafir). Adapun syarat sahnya harus dikerjakan secara berjamaah oleh minimal 40 orang yang ahli Jumat, dilaksanakan di pemukiman (kota atau desa), pada waktu zuhur, setelah dua khutbah, dan tidak didahului Jumat lain di tempat yang sama.

Rukun Khutbah yang Tidak Boleh Terlewat

Ust. Syamsul menekankan lima rukun khutbah yang wajib dipenuhi:

1. Memuji Allah dengan lafaz yang mengandung kata hamida atau seakar
2. Membaca shalawat kepada Nabi dengan menyebut nama beliau
3. Wasiat takwa, meski tidak harus menggunakan kata “takwa”
4. Membaca ayat Al-Qur’an yang dapat dipahami maknanya
5. Berdoa untuk kaum muslimin yang bersifat ukhrawi

“Rukun nomor 1-3 harus dikerjakan di kedua khutbah. Membaca ayat dianjurkan di khutbah pertama, sedangkan doa di khutbah kedua. Saat berdoa, lebih utama tidak mengeraskan bacaan amin,” paparnya.

Sunah dan Adab Khutbah

Tidak hanya soal kewajiban, peserta juga mendapat pemahaman tentang sunah-sunah khutbah seperti khutbah di atas mimbar, mengucapkan salam saat masuk masjid dan naik mimbar, duduk saat azan kedua, hingga membaca surat Al-Jumuah atau Al-A’la di rakaat pertama dan Al-Munafikun atau Al-Ghasyiyah di rakaat kedua.

Adab Jumat bagi Jamaah

Beliau juga mengingatkan adab-adab Jumat seperti mandi, hadir awal, memakai pakaian putih, berjalan dengan tenang, membaca Al-Kahfi, memperbanyak shalawat, hingga larangan melangkahi jamaah dan duduk ihtibak (memeluk lutut).

“Seorang khatib adalah pusat perhatian, maka berpenampilanlah yang terbaik. Utamakan pakaian putih, termasuk imamahnya. Jika tidak bisa putih keseluruhan, minimal bagian atasnya,” pesannya.

Hal-Hal Penting bagi Imam

Di akhir sesi, Ust. Syamsul memberikan tips praktis bagi imam, mulai dari sunah-sunah salat seperti melafalkan niat, mengangkat tangan, meletakkan tangan di dada hingga pusar, hingga memperhatikan saktah (diam sejenak) setelah amin agar jamaah sempat membaca Al-Fatihah.

Materi Kedua: Tahsinul Qur’an, Membenarkan Bacaan Surat Al-Fatihah

Sesi berikutnya diisi oleh Ust. H. Fahrurozi Tamimi, MH yang membawakan materi Tahsinul Qur’an dengan fokus pada Surat Al-Fatihah. Sebagai surat yang wajib dibaca dalam setiap rakaat, pemahaman dan pembenaran bacaan Al-Fatihah menjadi keniscayaan bagi setiap imam.

Makharijul Huruf dan Sifatul Huruf

Ust. Fahrurozi memaparkan tempat keluar huruf (makharijul huruf) yang terbagi menjadi lima:

· Al-Jauf (rongga mulut): 3 huruf
· Al-Halq (tenggorokan): 3 tempat, 6 huruf
· Al-Lisan (lidah): 10 tempat, 18 huruf
· As-Syafatan (dua bibir): 2 tempat, 4 huruf
· Al-Khoisyum (pangkal hidung): 1 tempat, 2 huruf (ghunnah)

Beliau juga menjelaskan sifat-sifat huruf, baik yang berlawanan seperti jahr dan hams, syiddah dan rakhawah, maupun yang tidak berlawanan seperti qalqalah, ghunnah, dan liin.

Fikih Al-Fatihah

Dalam sesi ini, peserta mendapat pemahaman mendalam tentang fikih Al-Fatihah:

· Al-Fatihah adalah rukun salat yang wajib dibaca imam dan munfarid. Makmum tetap wajib membaca, kecuali masbuq yang mendapati imam sudah rukuk.
· Dalam mazhab Syafi’i, basmalah adalah ayat pertama Al-Fatihah dan wajib dibaca.
· Syarat sahnya meliputi: tertib (berurutan), muwalat (berturut-turut), menjaga huruf dan tasydid (terdapat 14 tasydid), serta bacaan harus didengar sendiri.

Perbedaan Qiraat: Maliki Yaumiddin

Menariknya, Ust. Fahrurozi mengupas perbedaan qiraat dalam lafaz Maliki Yaumiddin. Imam Ashim, al-Kisa’i, Ya’kub, dan Khalaf al-Asyir membaca dengan memanjangkan mim (مَالِكِ), sementara Imam Nafi’, Ibnu Katsir, dan lainnya membacanya pendek (مَلِكِ).

“Sebagian ulama membaca al-Fatihah di rakaat pertama dengan menetapkan alif pada lafadz Maaliki, sedangkan di rakaat kedua membuangnya. Ini karena disunnahkan memanjangkan rakaat pertama daripada rakaat kedua,” jelasnya.

Waqaf yang Tepat

Beliau juga menegaskan berdasarkan kitab Fathul Mu’in dan Nihayatuz Zain karya Syekh Nawawi al-Jawi, bahwa yang paling utama adalah berwaqaf di setiap akhir ayat Al-Fatihah. Namun, tidak dianjurkan berwaqaf pada lafaz an’amta ‘alaihim karena bukan waqaf tam dan bukan akhir ayat.

Materi Ketiga: Memilih Tema dan Teknik Khutbah yang Menarik

Memasuki sesi siang, Ust. H. Fahrurozi Tamimi, MH kembali tampil dengan materi yang tak kalah penting: “Memilih Tema dan Teknik Khutbah yang Menarik”. Materi ini diambil dari pengalaman beliau saat memberikan diklat serupa di LP Kelas IA Lowokwaru, Malang, pada Oktober 2025.

Tema adalah Jiwa Khutbah

Ust. Fahrurozi membuka sesi dengan pernyataan kuat: “Tema adalah jiwa khutbah.” Tema yang tepat akan membuat jamaah tertarik mendengarkan, mudah memahami isi khutbah, dan termotivasi mengamalkan pesan.

Kriteria Tema yang Baik

Tema yang baik harus:

· Aktual dengan isu terkini
· Relevan dengan realita umat
· Mengandung nilai edukatif dan spiritual
· Membangun kesadaran keislaman

Sumber Inspirasi Tema

Beliau memberikan tiga sumber inspirasi:

1. Al-Qur’an dan Hadits: Tema tauhid, akhlak, ibadah, sosial
2. Kondisi Umat Saat Ini: Solidaritas sosial, generasi muda, musibah, kebangsaan
3. Momentum Tertentu: Tahun baru, Ramadhan, kemerdekaan, maulid Nabi

Teknik Menyusun dan Menyampaikan Khutbah

Untuk menyusun khutbah yang menarik, Ust. Fahrurozi menyarankan:

· Riset singkat tentang tema
· Gunakan kisah inspiratif atau nyata
· Buat kerangka: pembukaan, isi, penutup
· Sisipkan dalil Al-Qur’an dan Hadits
· Jaga durasi efektif 10-15 menit

Dalam penyampaian, beliau menekankan:

· Gunakan intonasi bervariasi
· Kontak mata dengan jamaah
· Hindari membaca teks sepenuhnya
· Sampaikan dengan penghayatan
· Gunakan bahasa tubuh yang sopan

Kesalahan yang Perlu Dihindari

Beliau juga mengingatkan kesalahan umum seperti tema terlalu berat, bahasa terlalu tinggi, membaca teks tanpa ekspresi, menyalahkan jamaah, dan durasi terlalu panjang.

Penutupan: Pesan Kyai Nur Asmari tentang Tiga Fiqih Pengembangan Islam

Puncak acara ditandai dengan penyerahan sertifikat kepada seluruh peserta yang telah mengikuti diklat dari pagi hingga sore. Penyerahan dilakukan langsung oleh sesepuh NU Kota Malang, Kyai Nur Asmari, yang juga bertindak sebagai pemateri strategi dakwah.

Dalam sambutan penutupnya, Kyai Nur Asmari menyampaikan pesan-pesan berharga yang menjadi bekal para imam dan khatib saat kembali ke masyarakat.

Khutbah yang Efektif: Tegas dan Tidak Panjang

Mengawali pesannya, beliau menyinggung soal teknis khutbah yang sering menjadi keluhan jamaah.

“Dalam khutbah, umumnya jamaah tidak menghendaki khutbah yang panjang. Usahakan jangan lebih dari 20 menit. Kemudian, khutbah hendaknya tegas, seakan-akan di depan itu musuh. Maksudnya, kita harus menyampaikan kebenaran dengan berani, tidak ragu-ragu, karena ini tanggung jawab kita di hadapan Allah,” tegasnya.

Tiga Macam Pemahaman dalam Pengembangan Islam

Lebih jauh, Kyai Nur Asmari memaparkan konsep penting tentang tiga pendekatan dalam mengembangkan ajaran Islam yang harus dipahami oleh para kader NU:

1. Fikihul Ahkam: Pemahaman Hukum
“Pendekatan pertama adalah fikihul ahkam, yaitu pemahaman secara hukum yang diterapkan dalam lembaga pesantren, terutama pondok pesantren salaf. Seperti yang kita lihat di Pondok Pesantren Miftahul Huda Gading, di sana santri dididik untuk memahami hukum Islam secara mendalam. Ini adalah fondasi utama, karena tanpa pemahaman hukum yang benar, ibadah kita bisa salah.”

2. Fikihud Dakwah: Pemahaman Dakwah
“Kedua, fikihud dakwah, yaitu pemahaman tentang bagaimana menyebarkan Islam melalui dakwah. Inilah yang kita lakukan hari ini. Mengkader dai-dai muda, imam-imam, dan khatib yang siap terjun ke masyarakat. Namun, saya ingatkan, semua ini harus dengan niat lillahita’ala. Bukan karena ingin dipuji, bukan karena ingin terkenal. Niatkan semata-mata karena Allah.”

3. Fikihus Siyasah: Pendekatan Politik
“Ketiga, fikihus siyasah, yaitu pendekatan politik. Ini bisa melalui jalur legislatif atau politik praktis. Tujuannya tetap sama, mengajarkan nilai-nilai keislaman lewat jalur politik. Karena kebijakan publik juga menentukan masa depan umat. Maka jangan pernah remehkan politik, asalkan kita masuk dengan niat yang benar dan tetap berpegang pada nilai-nilai Islam.”

Harapan untuk Generasi Penerus

Di akhir sambutannya, Kyai Nur Asmari kembali mengingatkan bahwa diklat ini bukan sekadar seremonial, tetapi awal dari perjuangan panjang.

“Insya Allah, NU tidak akan kekurangan kiai. Dari majelis-majelis seperti inilah lahir generasi penerus yang kelak tidak hanya menjadi imam dan khatib, tetapi juga mengasuh pondok pesantren, membimbing umat, dan membawa kemaslahatan bagi bangsa. Teruslah belajar, teruslah berjuang, dan jaga selalu adab serta niat kita,” pesannya.

Acara ditutup dengan doa bersama dan foto seluruh peserta, panitia, dan pemateri. Wajah-wajah bersemangat tampak dari para imam rowatib, khatib, pengurus MWC NU, serta kader Ansor dan IPNU yang hadir. Mereka pulang tidak hanya membawa sertifikat dan materi, tetapi juga semangat baru untuk mengabdi kepada umat melalui mimbar-mimbar masjid dan mushola di seluruh Kecamatan Klojen.

Artikel ini diproduksi oleh Tim Jurnalistik LTN NU MWCNU Kecamatan Klojen sebagai bentuk dokumentasi dan publikasi kegiatan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

scroll to top